KALTIMTALK.COM – Petani di Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, kini mulai mengalihkan sebagian kebun karet mereka ke kebun sawit untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
Pergeseran pola tanam ini dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan petani mengelola lahan.
Kepala Desa Margahayu, Rusdi, mengatakan salah satu alasan petani beralih ke sawit adalah karena sawit dianggap lebih praktis dikelola dibandingkan karet.
“Kalau karet, petani harus nyadap tiap hari, tidak boleh putus. Sedangkan sawit, cukup panen seminggu sekali. Jadi tenaga bisa dialihkan untuk usaha lain,” jelasnya kepada kaltimtalk.com pada Kamis (17/7/2025).
Menurutnya, letak Margahayu yang dekat dengan pabrik sawit PT Niagamas juga menjadi faktor pendukung.
Dengan jarak yang dekat, hasil panen sawit lebih cepat dipasarkan dan biaya angkut lebih rendah dibandingkan menjual getah karet ke pabrik penampung yang jaraknya cukup jauh.
“Pasarnya jelas dan dekat, ini juga alasan kenapa warga mulai tanam sawit. Tapi kebun karet masih tetap ada karena banyak yang sudah puluhan tahun mengandalkan karet,” tambahnya.
Rusdi menegaskan pemerintah desa tidak menutup mata dengan peralihan pola tanam ini.
Melalui BUMDes, pemerintah desa berupaya membantu petani menjalin kerja sama dengan pabrik dan menyiapkan pola penjualan yang lebih efisien agar hasil kebun tetap memberikan keuntungan.
“Kami ingin petani tetap untung, biaya operasionalnya ringan, dan penghasilan keluarganya tetap terjaga. Jadi meski pola tanam berubah, tujuannya tetap sama: untuk kesejahteraan petani,” tutupnya. (Adv/wo)












