Festival Budaya Tumbuh dari Akar Desa di Kota Bangun Darat

Camat Kota Bangun Darat, Julkifli.

KALTIMTALK.COM – Budaya tak sekadar tradisi, tapi juga denyut kehidupan warga Kecamatan Kota Bangun Darat. Dari desa ke desa, festival budaya tumbuh sebagai cerminan keberagaman dan kekayaan warisan leluhur yang dijaga lintas generasi.

Camat Kota Bangun Darat, Julkifli, mengatakan bahwa hampir setiap desa di wilayahnya kini telah memiliki festival budaya yang unik. Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang pelestarian seni dan adat, tapi juga sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

“Setiap desa punya keunikan masing-masing. Warna budaya yang berkembang tergantung asal-usul masyarakatnya, dan kami berupaya menjaga keberagaman itu,” ujarnya, Jumaat (2/5/25).

Dari 10 desa yang ada, tiga di antaranya merupakan desa lokal yakni desa Sedulang, Benua Baru, dan Kedang Ipil sementara tujuh lainnya merupakan desa transmigrasi dari SP1 hingga SP7.

Perbedaan latar belakang ini justru menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan budaya di Kecamatan Kota Bangun Darat.

Salah satu yang cukup dikenal adalah Festival Durian di Desa Benua Baru, yang digelar saat panen raya tiba. Sementara di Kedang Ipil, tradisi Nutuk Beham dan Belian Namang masih dilestarikan sebagai bagian dari identitas masyarakat lokal.

Meski belum semua festival terekspos ke publik, nilai adat tetap hidup dan dijaga di berbagai kegiatan budaya berskala kecil. Julkifli menekankan pentingnya kolaborasi antara budaya lokal Kutai dan budaya para pendatang, khususnya dari Jawa, untuk menciptakan harmoni sosial.

“Budaya Jawa memang mendominasi di desa-desa SP karena mayoritas warga berasal dari sana. Tapi kami dorong agar ada ruang untuk budaya Kutai juga, agar seimbang dan saling menghargai,” tambahnya.

Pemerintah kecamatan, kata Julkifli, terus mendorong desa-desa menjadikan budaya sebagai landasan pembangunan. Tak hanya untuk memperkuat jati diri, tetapi juga sebagai peluang ekonomi.

“Desa seperti Kedang Ipil dan tiga desa Kota Bangun (I, II, dan III) sudah menunjukkan komitmennya menjaga budaya. Kami percaya festival-festival ini ke depan bisa menjadi potensi wisata dan penggerak ekonomi masyarakat,” tutupnya. (Adv/wo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *