PENAJAM — Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus memperkuat pengendalian penyakit berbasis lingkungan, khususnya malaria dan demam berdarah dengue (DBD), melalui aksi serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan di 11 puskesmas se-PPU pada momentum Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61.
Aksi ini merupakan rangkaian kegiatan pencanangan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) yang dipusatkan di SMPN 13 Desa Bangun Mulyo, Kecamatan Waru. Kepala Dinas Kesehatan PPU Grace memaparkan perkembangan penanganan malaria dan menunjukkan hasil signifikan dalam dua tahun terakhir.
“Tahun 2023 kita mencatat 1.315 kasus malaria dengan API di atas 5. Pada 2024 angka tersebut turun menjadi 2,1, dan hingga Oktober 2025 kembali menurun menjadi 0,8. Ini kemajuan besar bagi PPU,” ujarnya.
Menurut Grace, penurunan API hingga di bawah angka 1 membuka peluang bagi Kabupaten PPU untuk memulai tahap eliminasi malaria pada 2026. Targetnya, PPU dapat mencapai status eliminasi pada tahun 2027, lebih cepat tiga tahun dari target nasional 2030.
Selain malaria, aksi serentak PSN juga diarahkan untuk mengantisipasi munculnya klaster baru kasus DBD. Puskesmas di Waru, Babulu, Sepaku, Penajam, hingga wilayah pesisir ditugaskan melakukan pemeriksaan jentik, edukasi 3M Plus, serta membagikan larvasida kepada warga berisiko tinggi.
Grace menekankan pentingnya sinergi lintas instansi, termasuk desa, kecamatan, TNI, dunia usaha, dan Forum Kabupaten Sehat (FKS). “Kolaborasi adalah kunci. Kesehatan masyarakat bukan hanya urusan dinas, tetapi gerakan bersama,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat adalah faktor penentu keberhasilan. “Jika setiap rumah aktif memantau jentik, maka wabah dapat kita kendalikan tanpa harus menunggu fogging,” tutupnya.(Adv/DiskominfoPPU)












