PENAJAM – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Andi Israwati, menegaskan bahwa pelaksanaan Festival Belian Adat Paser Nondoi Tahun 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat sektor kebudayaan di daerah.
Menurutnya, kegiatan adat tahunan ini bukan hanya perayaan tradisi, melainkan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga identitas dan warisan budaya Paser di tengah dinamika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Tahun ini menjadi titik awal kepemimpinan Bupati Mudyat Noor dalam upaya memajukan kebudayaan di Kabupaten PPU. Karena efisiensi anggaran, hanya Festival Nondoi yang dilaksanakan sebagai festival kebudayaan tahun ini. Sekaligus menjadi penanda akhir masa jabatan saya sebagai kepala dinas,” ungkap Andi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati PPU beserta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan festival, sehingga kegiatan adat tersebut dapat terlaksana dengan baik dan meriah.
Festival Belian Adat Paser Nondoi Tahun 2025 sendiri resmi dibuka oleh Bupati PPU Mudyat Noor di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau, Kilometer 9, Kelurahan Nipah-Nipah, Senin (3/11/2025). Pembukaan ditandai dengan prosesi adat potong tebu dan pemukulan *petep* bersama, yang dilanjutkan dengan penampilan tari ronggeng Paser sebagai simbol suka cita masyarakat.
Festival tahun ini mengusung tema “Jakit Aso Erai Siret, Dalai Aso Erai Urai” atau Satu Ikatan Sebangsa dan Satu Tanah Air, yang mencerminkan semangat persatuan dan kebersamaan seluruh lapisan masyarakat Benuo Taka di tengah perubahan zaman.
Ketua Lembaga Adat Paser (LAP) Kabupaten PPU, Musa, menambahkan bahwa Festival Nondoi merupakan simbol penyucian diri dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus sarana memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
“Festival Nondoi adalah wujud penyucian diri dan doa. Mari bersama menjaga budaya lokal agar semakin dikenal luas, baik di tingkat lokal, nasional, maupun mancanegara,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Nondoi di PPU. Ia menyebut, kegiatan kebudayaan seperti ini mampu mendorong kreativitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Budaya adalah sumber kreativitas, dan kreativitas merupakan sumber perekonomian masyarakat. Melalui kegiatan ini, banyak potensi ekonomi lokal dan pelaku UMKM yang turut bergerak,” tuturnya.
Festival Nondoi yang berlangsung selama beberapa hari ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pelestarian adat, tetapi juga memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap budaya Paser sebagai jati diri di Gerbang Nusantara.
(Adv/DiskominfoPPU)












