KALTIMTALK.COM – Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memiliki potensi pertanian yang cukup unik dan menjanjikan, terutama dari komoditas khas daerah berupa padi gunung atau dikenal juga dengan beras gunung. Komoditas ini memiliki cita rasa dan aroma yang khas, sehingga dinilai memiliki nilai jual tinggi.
Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat, mengungkapkan bahwa padi gunung menjadi salah satu keunggulan lokal yang perlu mendapat perhatian lebih serius dari berbagai pihak.
“Beras gunung itu harum, enak, dan bisa menambah selera makan. Ini potensi yang harus kita jaga dan kembangkan,” ujarnya saat wawancara pada Rabu (4/6/2025).
Namun demikian, menurut Rakhmadani, pengelolaan potensi ini masih belum dilakukan secara komprehensif. Pendekatan terhadap para petani peladang yang menanam padi gunung belum maksimal, baik dari sisi edukasi, pemetaan lahan, hingga pengendalian hama.
“Saat ini belum ada pendekatan secara general dan menyeluruh. Harusnya pemahaman petani ditingkatkan, lalu dikaji juga kendala-kendala yang mereka alami selama ini,” kata Rakhmadani.
Salah satu kendala utama yang dihadapi para petani padi gunung, lanjutnya, adalah serangan hama burung. Hama ini kerap muncul dalam jumlah besar pada musim-musim tertentu, dan sangat merugikan hasil panen.
“Kondisi ini perlu dicermati dengan baik. Kita harus pikirkan bagaimana mengatur dan mencegah agar padi gunung ini tidak terpapar oleh serangan hama burung,” ungkapnya.
Selain hama, persoalan akses dan penetapan wilayah tanam juga menjadi tantangan. Menurut Rakhmadani, belum ada pemetaan yang jelas terkait lahan-lahan potensial yang cocok untuk padi gunung, sehingga diperlukan langkah penetapan kawasan pertanian khusus.
“Harus ditentukan wilayah mana yang memiliki potensi padi gunung terbaik. Kemudian kelompok-kelompok tani di daerah itu diperkuat dan dibekali dengan pengetahuan bertani yang memadai,” tegasnya.
Dia menyebutkan bahwa salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melalui kegiatan sosialisasi serta pemberdayaan kelompok tani. Dengan demikian, para petani dapat lebih siap dalam menghadapi persoalan-persoalan teknis di lapangan.
Menurutnya, potensi padi gunung bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga nilai jualnya di pasar. Dengan aroma harum dan rasa yang khas, beras gunung dari Tabang bisa menjadi komoditas unggulan daerah jika dikelola secara serius.
Hingga saat ini, pemerintah baik dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten telah melakukan pendampingan kepada petani. Namun, Rakhmadani menilai upaya tersebut masih belum maksimal.
Ia berharap, ke depan akan ada sinergi lebih kuat antara pemerintah, kelompok tani, dan stakeholder lainnya untuk mengembangkan sektor pertanian padi gunung secara berkelanjutan.
“Kita ingin pertanian di Tabang, khususnya beras gunung ini, dapat dimaksimalkan. Baik dari segi produksi, perlindungan tanaman, hingga pemasarannya,” tambahnya.
Tak kalah penting, menurut Rakhmadani, kebutuhan dasar para petani juga harus dipenuhi. Peralatan, sarana prasarana, dan akses teknologi pertanian harus dilengkapi agar mereka dapat bertani dengan lebih efektif.
“Petani harus kita lengkapi kebutuhan dasar mereka. Kalau itu bisa dipenuhi, maka produktivitas mereka juga akan meningkat,” pungkasnya.(Adv/hm)
