PENAJAM – Penetapan Daerah Mitra melalui Peraturan Kepala Otorita IKN Nomor 2 Tahun 2026 menjadi penanda bahwa arah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak lagi eksklusif, melainkan mulai membuka ruang keterlibatan bagi daerah sekitar. Namun, bagi pemuda PPU, momentum ini tidak boleh disambut dengan euforia semata.
Pemuda PPU, Akhmad Ali Ilhamdani, menegaskan bahwa peluang besar ini justru akan menjadi ancaman jika masyarakat lokal tidak mengambil posisi sejak awal.
“Kita tidak kekurangan peluang. Yang kita hadapi sekarang adalah risiko tertinggal di tengah peluang itu sendiri. Kalau kita tidak siap, maka ruang-ruang yang terbuka akan diisi oleh pihak yang lebih siap, termasuk dari luar daerah,” tegasnya.
Ia menilai, konsep Daerah Mitra adalah “pintu masuk”, tetapi bukan jaminan keterlibatan. Tanpa kesiapan sumber daya manusia dan keberanian pelaku usaha lokal, PPU hanya akan menjadi lokasi, bukan kekuatan ekonomi.
“Jangan bangga hanya karena kita berada di sekitar IKN. Kedekatan geografis tidak otomatis berarti kedekatan ekonomi. Itu harus direbut, bukan ditunggu,” ujarnya.
Menurutnya, kewajiban kemitraan dengan UMKM dalam regulasi harus dikawal secara serius, agar tidak sekadar menjadi formalitas administratif tanpa dampak nyata bagi masyarakat lokal.
“Kemitraan itu jangan sampai hanya di atas kertas. Pemuda dan pelaku usaha lokal harus benar-benar masuk dalam rantai pasok, bukan hanya dijadikan pelengkap,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa sektor strategis seperti ketahanan pangan, logistik, hingga industri berbasis teknologi harus segera diisi oleh putra daerah, tanpa kehilangan ruang manfaat bagi masyarakat lokal.
“Babulu bisa jadi lumbung pangan IKN, tapi siapa yang akan mengelolanya? Itu pertanyaan penting. Kalau tidak kita persiapkan dari sekarang, maka kita hanya akan jadi penonton dari keberhasilan yang terjadi di depan mata kita sendiri,” ujarnya dengan nada tegas.
Lebih jauh, ia mendorong perubahan cara berpikir generasi muda PPU agar lebih adaptif dan berani bersaing di ekosistem ekonomi modern yang sedang dibangun.
“IKN ini bukan proyek biasa. Ini ekosistem baru yang menuntut kompetensi, kecepatan, dan keberanian. Pemuda PPU harus naik kelas—tidak ada pilihan lain,” ungkapnya.
Ia pun mengingatkan bahwa sejarah akan mencatat siapa yang mengambil peran dan siapa yang tertinggal dalam momentum besar ini.
“Kesempatan ini tidak datang dua kali. Kita bisa jadi bagian dari sejarah besar ini, atau hanya jadi catatan kaki. Pilihannya ada di kita sendiri,” pungkasnya.
Terakhir ia menyampaikan bahwa proses pembangunan IKN yang dirasa masih memiliki waktu yang panjang bisa menjadi realitas yang pahit di masa depan.
“Ini bukan soal waktu yang panjang. Kita sedang berpacu dengan realitas. Kalau SDM kita tidak disiapkan sekarang, maka kita berisiko menghadapi ketimpangan di masa depan,” jelasnya. (*)
